Asal Usul Antiseptik

Asal Usul Antiseptik

Berita Terbaru Antiseptik dapat diartikan sebagai zat atau senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai penghambat pertumbuhan kuman, mikroorganisme, dan bakteri tertentu. Biarpun belum tentu efektif untuk menghambat paparan virus, antiseptik masih sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan medis, terutama di rumah sakit.

Beberapa bahasan tentang asal usul penemuan dan perkembangan antiseptik di dunia medis yang mungkin tidak kamu ketahui sebelumnya, yaitu :

Asal Usul Antiseptik

Sudah ada sejak zaman kuno
Melansir laman sains Discoveriesinmedicine.com, zat antiseptik ternyata telah digunakan sejak zaman dulu, yakni sejak zama Mesir dan Yunani kuno. Zaman dulu, proses pembuatan mumi Mesir melibatkan beberapa bahan yang diklaim dapat menghambat mikroorganisme, yakni resin, nafta, minyak sayur, dan rempah-rempah.

Orang Yunani dan Romawi zaman dulu juga menggunakan zat yang diklaim dapat menghambat pertumbuhan kuman dan mikroorganisme, yakni anggur, minyak, dan cuka. Penggunaan anggur dan cuka pernah dilakukan untuk pengobatan pada zaman dokter Hippokrates (460 SM – 377 SM).

Terbukti bahan-bahan alami tersebut dapat menghambat kuman dan pertumbuhan mikroorganisme, bahkan mencegah pembusukan dini seperti yang terjadi pada mumi Mesir. Ini menunjukkan bahwa ahli medis dan dokter di zaman kuno (Sebelum Masehi) sudah mengetahui tentang manfaat bahan-bahan antiseptik alami.

Mulai berkembang pesat pada abad pertengahan
Ada dua sisi kehidupan yang terjadi pada abad pertengahan. Sisi yang pertama menunjukkan kemajuan dan keberhasilan umat manusia dalam dunia sains. Namun sisi kedua justru menunjukkan bahwa umat manusia pernah gagal dalam mengatasi wabah pandemi terburuk yang pernah terjadi.

Sejarah pernah mencatat bahwa dunia pernah terkena wabah Black Death (Maut Hitam) pada abad pertengahan, di mana wabah ini menewaskan lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia. Meskipun perjalanan dunia medis cukup berkembang, namun nyatanya manusia di zaman itu tidak dapat mengatasi pandemi global yang terjadi.

Sebagaimana dikutip dari BBC menulis bahwa tindakan bedah pada abad pertengahan sudah menggunakan alkohol (terkadang minuman wine) untuk digunakan sebagai antiseptik. Pembedahan yang dilakukan di zaman itu sudah cukup kompleks karena sudah mencakup pembedahan dalam, misalnya mengangkat batu kandung kemih.

Saat ini, antiseptik dikembangkan dengan bahan-bahan kimia pembunuh kuman
Teknik pembedahan modern yang menggunakan antiseptik sebagai bahan wajib merupakan teknik pembedahan yang awalnya dipelopori oleh Joseph Lister, seorang dokter spesialis sekaligus penemu antiseptik modern yang berasal dari Inggris.Melansir Britannica.com, pada 1861 silam Joseph Lister bertugas di rumah sakit kerajaan Glasgow, dan ia ditempatkan pada barak operasi. Ia melihat ada beberapa pasien yang mengalami infeksi pascaoperasi, bahkan infeksi tersebut mengakibatkan kelumpuhan dan kematian.

Setelah Lister melakukan penelitian, ia menemukan bahwa operasi yang tidak steril dapat mengakibatkan pembusukan, kerusakan kulit bekas sayatan, dan bahkan kerucanan darah. Akhirnya Joseph Lister meramu beberapa bahan kimia untuk dijadikan senyawa antiseptik modern, salah satu bahan kimia yang ia gunakan adalah carbolic acid.

Hasilnya ternyata sangat bagus, semenjak pemakaian antiseptik penemuan Lister tersebut, terbukti kematian akibat infeksi pascaoperasi dapat berkurang secara drastis. Antiseptik modern ala Joseph Lister ini telah digunakan secara luas, baik untuk alat-alat bedah, tangan petugas medis, lingkungan rumah sakit, hingga dipakai oleh orang-orang umum.

Antiseptik berguna untuk mengurangi penularan dan bukan untuk membunuh virus
Saat ini antiseptik memiliki banyak jenis, mulai dari sabun, cairan, gel (biasanya dalam bentuk hand sanitizer), dan obat-obat khusus pembunuh kuman. Secara teori, zat antiseptik memang dapat mengurangi tingkat risiko penularan penyakit akibat kuman, bakteri, dan mikroorganisme jenis parasit.

Namun apakah antiseptik dapat efektif membunuh virus? Mengingat bahwa virus sangat berbeda dengan kuman dan bakteri, membuat studi akan kasus ini masih dalam perdebatan ilmiah. Laman Virology.ws menjelaskan bahwa virus bukanlah makhluk hidup, jadi secara hakikat ia tidak dapat dibunuh alias tidak dapat mati.

Pada dasarnya virus tidak aktif (mengkristal) pada saat berada di luar tubuh atau sel hidup. Satu-satunya cara efektif untuk mencegah penyakit akibat paparan virus adalah dengan vaksin dan imun atau kekebalan tubuh yang kuat. Obat dan antiseptik digunakan hanya untuk menekan dan mengurangi risiko penularan penyakit yang timbul akibat paparan virus.

Bahaya jika terlalu sering memakai antiseptik
Bahan antiseptik memang bagus untuk menghambat perkembangan kuman dan bakteri. Namun tahukah kamu bahwa antiseptik juga memiliki efek samping? Ya, melansir laman Drugs.com, penggunaan antiseptik dalam sedikit kasus dapat berdampak buruk bagi kulit, terutama bagi mereka yang memiliki alergi.

Biasanya sering ada beberapa kasus penggunaan antiseptik yang terlalu sering akan mengakibatkan ruam, gatal, iritasi, dan bengkak pada lapisan kulit. Bahkan dalam keadaan tertentu (meski jarang), antiseptik bisa berbahaya bagi orang-orang yang rentan terhadap alergi.

Demikian asal usul tentang penemuan dan perkembangan antiseptik di dunia medis. Semoga artikl ini bermanfaat untukmu ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *